Pages

Showing posts with label 2019 at 09:49PM. Show all posts
Showing posts with label 2019 at 09:49PM. Show all posts

Sunday, May 12, 2019

Ketum Pemuda Muhammadiyah: People Power Bukan Solusi

Pemuda Muhammadiyah meminta penggunaan jalur hukum.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto menyatakan pengerahan people power bukan solusi atas persoalan sengketa pada Pemilu 2019. 

Menurut dia, satu-satunya jalan terbaik untuk menyelesaikan sengketa tersebut yakni melalui jalur hukum. "Mekanisme hukum adalah satu jalan terbaik. Bukan people power solusinya. Karena instrumen hukum kenegaraan dan hukum itu sudah ada dan sudah dipenuhi semua," katanya saat di kampus Intitut Teknologi dan Bisnis (ITB) Ahmad Dahlan, Ciputat, Tangerang Selatan, Ahad (12/5). 

Sunanto melanjutkan, jika ada pihak yang menemukan dugaan kecurangan Pemilu 2019 berdasarkan data dan fakta, maka harus menggunakan jalur hukum terlebih dulu. "Jangan people power dulu terus hukum ditinggalkan. Seharusnya hukum didahulukan," kata dia.  

Sunanto menyadari siapapun boleh menyampaikan temuan terkait dugaan kecurangan Pemilu dan ini sah-sah saja. Namun dia mengingatkan, temuan tersebut harus didasarkan pada fakta dan data.  

Seluruh kader Pemuda Muhammadiyah, ungkap Sunanto, diimbau untuk tetap menggunakan akal sehatnya dan melaksanakan sesuai mekanisme hukum. “Dan tidak melakukan cara-cara yang di luar nalar ber-Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Fakta hukum harus menjadi dasar, dan itu menjadi ranah perjuangan," katanya. 

Wacana pengerahan masssa agar turun ke jalan sebagai wujud protes terhadap penyelenggaraan Pilpres 2019 menguak beberapa pekan terakhir, terutama di media sosial. 

Sejumlah kalangan tidak setuju atas wacana itu. Salah satunya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj.

Said mengungkapkan, aksi turun ke jalan itu tidak perlu dan tidak ada gunanya. "Kalau dari NU, itu saya larang betul untuk ikut kegiatan tersebut," ucapnya saat di Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (9/5) lalu.

Said mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan dan perdamaian. Siapapun yang menang, maka itulah Presiden bagi seluruh rakyat Indonesia. "Harus kita terima dengan dewasa, lapang dada, berbesar hati. NU percaya pada KPU, Bawaslu, TNI, dan Polri," ujar dia.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2YmK4dN
May 12, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2YmK4dN
via IFTTT

Sunday, May 5, 2019

In Picture: Shalat Tarawih Pertama di Masjid Pusdai Bandung

Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan satu Ramadhan pada Senin (6/5).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Umat muslim melaksanakan shalat Tarawih di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Ahad (5/5) malam. Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan satu Ramadhan pada Senin (6/5).

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2vF6MSc
May 05, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2vF6MSc
via IFTTT

Wednesday, March 6, 2019

MUI NTT: Hari Raya Nyepi Perekat Antarumat Beragama

Perayaan Nyepi diharapkan menjadi motivasi Pemilu 2019 damai dan aman.

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG— Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Nusa Tenggara Timur menilai perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu merupakan perekat dalam membangun hubungan kekerabatan antarumat beragama di daerah ini.   

"Pertama saya mengucapkan selamat Hari Raya Nyepi dan semoga kedamaian dan kerukunan tetap langgeng di NTT," kata Ketua MUI NTT, Abdul Kadir Makarim, kepada Antara di Kupang, Rabu (6/3), terkait dengan perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis (7/3).

Kedua, tentunya karena perayaan Nyepi ini berbarengan dengan dimulainya masa puasa bagi umat Katolik yang ditandai dengan penerimaan Abu pada Rabu (6/3).

"Di sisi lain, perayaan dua hari raya keagamaan ini berlangsung pada saat bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi berupa Pileg dan Pilpres pada 17 April 2019, yang kami harapkan dapat membawa angin sejuk dalam membangun kebersamaan di negeri ini," katanya.

Menurut Makarim, kondisi ini terjadi karena saat ini aroma perpecahan antaranak bangsa mulai tercium di mana-mana, terutama di media sosial (medos). 

Menurut dia, saling menghina, saling mengejek, saling memfitnah satu sama lain, sesungguhnya sangat mengganggu umat beragama yang sedang merindukan kedamaian dan kenyamanan dalam hidup.

"Ingat bahwa tekad kita masyarakat NTT tetap menjadikan NTT sebagai Nusa Tetap Tenang (NTT) untuk mewujudkan terciptanya Nusa Terindah Toleransi (NTT)," katanya. 

Dia menyebutkan, boleh berbeda dalam memilih tapi tidak berarti harus berbeda dalam segalanya. “Kita masih masyarakat NTT yang terus merindukan Nusa Terindah Toleransi," katanya. 

Dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Kota Kupang menggelar berbagai kegiatan. Salah satunya adalah pawai Ogoh-ogoh. 

Sedangkan umat Katolik mengawali masa puasanya dengan menerima abu sebagai bentuk pertobatan selama masa penantian. 

Makarim berharap semua perayaan bisa berjalan dengan lancar. "Saya senang karena ada pawai ogoh-ogoh. Agama dan budaya bisa berjalan beriringan," ucap Makarim.  

Let's block ads! (Why?)


https://ift.tt/2Txdwil
March 06, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed https://ift.tt/2Txdwil
via IFTTT

Wednesday, February 6, 2019

Bravo Cijantung Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi-Amin

Deklarasi dukungan Bravo Cijantung untuk Jokowi-Ma'ruf Amin

Foto: Republika TV/Havid Al Vizki
EMBED
Masyarakat Cijantung punya aspirasi yang berbeda-beda terhadap Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bravo Cijantung deklarasikan dukungan untuk pasangan capres dan cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Anggota Bravo Cijantung, Uta Marsono mengatakan setiap orang punya aspirasi yang berbeda-beda.

Ia mengatakan, walaupun satu almamater dan satu keluarga, masyarakat Cijantung punya aspirasi yang berbeda-beda terhadap Pilpres 2019.

Uta menambahkan, sangat disayangkan ada beberapa pihak yang mengatasnamakan anak tentara Cijantung mendukung salah satu capres. Namun, setiap masyarakat Cijantung tentunya memiliki pandangan yang berbeda terhadap capres pilihan masing-masing.

Berikut video lengkapnya.

  • Videografer:
  • Havid Al Vizki
  • Video Editor:
  • Fian Firatmaja

Dapatkan Update Berita Republika

TERPOPULER

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2Dgtbsc
February 06, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2Dgtbsc
via IFTTT

Tuesday, February 5, 2019

Luis Suarez Berharap Valverde Perpanjang Kontrak di Barca

Di musim pertamanya, Valverde memenangkan gelar La Liga Spanyol dan Copa del Rey.

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Luis Suarez berharap Ernesto Valverde melanjutkan kerjanya di Barcelona. Striker Barca itu mengaku akan senang melihat sang pelatih bertahan di Camp Nou.

Sebab, kontrak Valverde akan habis pada 2020. Posisinya masih menimbulkan keraguan karena pada Desember tahun lalu Valvere merasa masa depannya masih belum jelas.

Di musim pertamanya, Valverde memenangkan gelar La Liga Spanyol dan Copa del Rey. Musim ini, Barca masih mempunyai peluang untuk mendapatkan tiga trofi, mengingat La Blaugrana saat ini masih berada di puncak klasemen sementara La Liga, bertahan di babak 16 besar Liga Champions, dan semifinal Copa del Rey.

Oleh karena itu, Suarez bergabung dengan Jordi Alba yang mendukung pelatihnya untuk tetap menjadi juru taktik Lionel Messi dkk.

''(Spekulasi) mengejutkan saya, karena dari apa yang saya pahami, masih ada satu tahun kontraknya yang tersisa. Saya akan senang jika dia (memperpanjang kontrak) karena dia adalah pelatih hebat dan memiliki staf yang luar biasa, serta memiliki kepercayaan pada para pemain,'' ujar Suarez dikutip dari FourFourTwo, akhir pekan lalu.

Suarez senang dengan cara Valverde melatih. Sebab pelatih yang juga mantan pemain Barca itu menghormati pemain yang bicara soal situasi pertandingan. Selain itu, Valverde juga menjadi pendengar yang baik saat para pemain ingin bicara.

Kondisi tersebut menjadi penting, karena ada saat di mana situasi sedang sulit dan harus dihadapi dengan banyak pemain top di dalamnya. Valverde menjaga agar semua pemain bahagia. ''Kami semua sangat bahagia. Dia memiliki kepercayaan yang tinggi untuk para pemainnya,'' jelas Suarez.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2SuyON7
February 05, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2SuyON7
via IFTTT

Monday, January 7, 2019

Durian Boyo Pekalongan Siap Gebrak Pasar Nasional

Petani dapat mengantongi uang sebesar Rp 40 juta per pohon saat panen durian Boyo

REPUBLIKA.CO.ID, PEKALONGAN -- Mendengar kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, secara spontan akan pada merujuk batiknya yang khas dan nasi megono yang lezat. Tidak hanya itu, jika dilihat secara geografis kabupaten Pekalongan merupakan daerah tropis kaya akan potensi tanaman buah yang hampir setiap sudutnya ditanami berbagai jenis tanaman buah termasuk durian.

“Durian Boyo merupakan salah satu komoditas buah unggulan. Varietas khas daerah ini menjadi kebanggaan masyarakat karena telah berhasil memenangkan kontes durian di kabupaten Pekalongan 2014 lalu,” kata penyuluh pertanian di Kabupaten Pekalongan Imam Fadholi.

Imam menjelaskan, keunggulan durian Boyo di antaranya memiliki postur besar yang mampu mencapai 5 - 6 kg per butir. Durian berwarna kuning ini memiliki daging tebal, rasa manis, legit, enak, wanginya harum serta kulitnya tidak mudah merekah.

“Keunggulan lain yakni ketahanannya. Mampu terjaga kualitasnya meski telah jatuh selama 3 hari. Ini memudahkan pengiriman ke luar kota,” ujar Imam.

Penyuluh pertanian di Kabupaten Pekalongan, Yasin Yusuf menjelaskan, durian Boyo pernah menjadi pemenang kontes durian di kabupaten Pekalongan beberapa waktu lalu. Dinas Pertanian Kabupaten Pekalongan kemudian mengusulkan durian lokal ini untuk mendapat sertifikat nasional. Saat ini durian Boyo telah resmi bersertifikat sebagai Durian Unggulan Kabupaten Pekalongan dari Kementerian Pertanian.

“Kami banyak kedatangan para penggemar durian termasuk para peneliti dari Balai Benih Semarang dan Kementerian Pertanian. Selama dua musim durian, mereka sengaja datang ke kebun untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai ciri fisik, mutu, daya tahan matang pohon, daya tahan buah dan pemeraman. Termasuk rencana pengembangan durian Boyo,” tutur Yasin.

Masa panen durian Boyo dimulai Januari sampai Maret, berlokasi di dukuh Doromantek, desa Dororejo, kecamatan Doro, kabupaten Pekalongan. Pada saat panen raya, durian tersebut dapat menghasilkan 600 sampai dengan 1.000 butir per pohon. Dengan harga Rp 50 ribu per buah untuk ukuran sedang dan Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu per buah untuk ukuran besar membantu meningkatkan pendapatan petani.

“Bila satu pohonnya rata-rata menghasilkan 800 buah maka dengan ukuran yang paling kecil pun kami bisa mengantongi uang sebesar Rp 40 juta per pohon.  Di samping untuk memenuhi permintaan para penggemar durian yang sengaja datang ke kebun, durian boyo banyak dijual ke pasar Pekalongan, Semarang, Bandung dan Jakarta,” kata Yasin dengan mata berbinar.

Direktur Buah & Florikultura, Ditjen Hortikultura, Sarwo Edhy menambahkan, untuk meningkatkan produksi dan mutu durian, Ditjen Hortikultura memberikan dukungan fasilitasi pengembangan durian lokal berdaya saing di wilayah sentra dengan model pengembangan kawasan.

“Selain itu kami juga memberikan bimbingan dan pendampingan teknis kepada para petani juga kelompok tani agar durian yang dikembangkan sesuai dengan kaidah SOP/GAP sehingga bisa menghasilkan buah sesuai dengan permintaan pasar baik dari segi mutu maupun jumlahnya,” tutup Sarwo.

 

 

 

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2RvIUgk
January 07, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2RvIUgk
via IFTTT

Sunday, January 6, 2019

Menuntut Ilmu tak Kenal Batas Usia

Tidak ada kata terlambat untuk kembali mengkaji ilmu-ilmu Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak ada alasan untuk tidak belajar di usia senja. Tidak ada kata terlambat untuk kembali mengkaji ilmu-ilmu Islam. Tak perlu pula merasa malu atau minder karena dianggap terlambat memulai mengkaji Islam. Banyak sekali dalam sejarah Islam dikisahkan, betapa banyak orang-orang yang lanjut usia, tetapi tidak sungkan untuk belajar ilmu agama.

Ibnu Mandah berangkat menuntut ilmu di usia 20 tahun dan menghabiskan usianya selama 45 tahun untuk menuntut ilmu di perantauan. Di usia yang sudah senja, 65 tahun, ia baru pulang dan menjadi ulama besar di kampung halamannya.

Ja'far bin Durustuwaih pernah mengisahkan, suatu kali ia berada dalam majelis ilmu Ali bin Al-Madini. Ketika waktu Ashar tiba, majelis itu telah penuh sesak oleh para penuntut ilmu yang akan dimulai esok harinya. Setiap pelajar tidak mau meninggalkan tempat duduknya, takut akan terisi oleh orang lain. Mereka menungguinya sepanjang malam agar mendapatkan posisi yang di depan.

Bahkan seorang bapak tua, kisah Ja'far, terpaksa buang air kecil di jubahnya, karena ia takut pergi ke kamar mandi dan meninggalkan tempat duduknya. “Saya melihat seorang yang sudah tua di majelis tersebut buang air kecil di jubahnya. Karena ia khawatir tempat duduknya diambil, apabila ia berdiri untuk buang air kecil ke kamar mandi,” kata Ja'far mengisahkan.

Betapa antusiasnya orang-orang terdahulu mencari ilmu agama. Bahkan, dalam kisah Ja'far, orang yang sudah tua sekalipun tak kalah bersemangatnya dari anak muda. Semangat inilah yang sudah pudar pada umat Islam saat ini. Semangat menuntut ilmu semakin pudar, seiring bertambahnya usia. Padahal, kewajiban menuntut ilmu tak pernah berkurang dengan bertambahnya usia.

Dunia pendidikan sudah lama mendengungkan istilah long life education (pendidikan seumur hidup). Demikian juga pengakuan negara seperti tertuang dalam UU Nomor 2 Tahun 1989 tentang penegasan pendidikan seumur hidup yang dikemukakan dalam pasal 10 ayat 1. Padahal, sebenarnya Islam sendiri telah terlebih dahulu mengemukakan istilah ini. Betapa banyak kisah-kisah yang memberi teladan bahwa menuntut ilmu tak kenal batas usia.

Dunia sains abad modern sudah membuktikan, otak manusia masih bisa dipakai dalam waktu ratusan bahkan ribuan tahun. Manusia hanya memakai 10 persen dari otaknya. Ini membuktikan, kapasitas dan daya tampung otak manusia tak pernah penuh. Ia akan bisa dipakai untuk belajar oleh orang yang sudah tua renta berusia ratusan tahun.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2GXQlJa
January 06, 2019 at 09:49PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2GXQlJa
via IFTTT