Pages

Tuesday, April 30, 2019

Bekerjalah dan Lahirkanlah Karya

Bekerja dan lahirkan karya-karya terbaik yang membawa kemaslahatan umat

Bulan Mei merupakan bulannya para pekerja. Alasannya pada tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh International atau yang dikenal dengan Mayday.

Sebagian pekerja memilih Mayday untuk beristirahat melepas penat namun sebagian lainnya ada yang memilih moment ini untuk menyalurkan aspirasi mereka sebagai pekerja. Namun apapun kegiatan yang dipilih semoga hal tersebut bisa membawa kemuliaan bagi setiap diri yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan.

Bukankah kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Maka harus dipastikan apakah amalan atau pekerjaan yang dilakukan selama ini mampu mendekatkan diri kita kepada Allah atau justru sebaliknya?

Berapa banyak orang bekerja atau beramal, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari pekerjaannya selain dari lelah semata? Sebagian orang bahkan ada yang bekerja untuk hal yang bersifat duniawi. Memupuk harta, meraih jabatan tertinggi dan mendapatkan wanita/pria sebagai pemenuhan syahwat belaka.

Padahal di dalam Islam 'bekerja' bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga petang, terus menerus tak kenal lelah. Akan tetapi 'kerja' yang dimaksud ialah mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga, masyarakat dan negaranya.

Islam menempatkan kerja atau amal sebagai kewajiban setiap muslim. Kerja bukan sekedar upaya mendapatkan rezeki yang halal guna memenuhi kebutuhan hidup, tetapi mengandung makna ibadah seorang hamba kepada Allah, menuju sukses di akhirat kelak.

Kesadaran akan makna hidup yang Allah berikan adalah hanya untuk beramal shalih merupakan hal penting yang harus dimiliki setiap mukmin yang muslim. Apabila kebanyakan orang mengatakan “waktu adalah uang”, maka bagi seorang muslim “waktu adalah amal shalih”. Karena, hidup akan menjadi hampa dan sia-sia bila tidak diisi dengan amal shalih. 

Hal tersebut Allah tegaskan dalam firmannya, Q.S At-Taubah : 105 yang artinya, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."

Dalam ayat diatas diterangkan pula bahwa Allah mengetahui sekecil apapun dari setiap pekerjaan kita. Allah juga Maha menyaksikan apa yang kita lakukan. Karenanya, kita harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu kita harus senantiasa menyempurnakan amal, ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil apapun.

Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang bekerja untuk dunia dan akhirat serta untuk diri dan umat. Sehingga dari pekerjaan kita itu akan lahir karya-karya terbaik yang membawa kemaslahatan bagi umat sebagaimana kegemilangan karya para sahabat-sahabat Rasulullah Saw dan generasi muslim setelahnya.

Wallahua'alam Bish Shawab

Pengirim: Widya Fauzi, Founder Komunitas Muslimah Menjahit dan Bandung Storytelling Club

Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2JcFoTF
April 30, 2019 at 06:08PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2JcFoTF
via IFTTT

Ritual Antar Kaisar Jepang Akihito Mundur

Kaisar Akihito akan digantikan Naruhito.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO — Kaisar Jepang Akihito mengakhiri tiga dekade kekuasaannya dengan mengumumkan pengunduran dirinya secara resmi pada Selasa (30/4). Ia menurunkan takhta kepada sang putra, Pangeran Naruhito. 

Prosesi pelepasan takhta pada pukul 5 sore waktu setempat. Kaisar Akihito terlihat melakukan upacara yang menandai berakhirnya pemerintahan dirinya dengan berdoa sesuai keyakinan banyak masyarakat Jepang, yaitu kepada Dewi Matahari Shinto. 

Prosedur turun takhta akan dilakukan dengan ritual yang dilakukan di Istana Kekaisaran pada sore, namun secara teknis Akihito masih menjadi kaisar hingga tengah malam, detik sebelum pergantian hari. Era Heisei atau mencapai perdamaian yang selama ini melekat dengannya akan digantikan dengan Era Reiwa atau harmoni yang indah dari Naruhito. 

Dalam ritual pertamanya pada Rabu (1/5) pagi, Naruhito akan menerima regalia kekaisaran, termasuk pedang dan permata sebagai simbol naik takhta. Dalam upacara ini, selain pejabat pemerintah, hanya bangsawan laki-laki berusia dewasa yang diperbolehkan untuk hadir karena alasan tradisi masyarakat Jepang.

Akihito menjadi sosok pertama yang mengambil Takhta Kristan di bawah konstitusi pasca Perang Dunia II dengan mendefinisikan kaisar sebagai simbol pemimpin rakyat tanpa kekuatan politik. Pria berusia 85 tahun itu disebut telah membawa monarki lebih dekat kepada banyak orang di Jepang. 

Pangeran Naruhito akan resmi menggantikan Kaisar Akihito pada Rabu (1/5) besok. Meski demikian, prosesi pelantikan dirinya secara resmi akan berlangsung pada Oktober. 

Banyak pertanyaan yang mengatakan mengapa Akihito mengundurkan diri sebagai Kaisar Jepang. Sebelumnya, pada Agustus 2016, ia disebut mengkhawatirkan usianya, seiring dengan kondisi kesehatannya yang menurun. 

Kaisar Akihito mengaku khawatir untuk menjalani tugas di usia tua.  Ia kemudian menyampaikan keinginannya bahwa ia ingin turun takhta saat masih berada dalam kondisi kesehatan yang baik. 

Meski demikian, dalam Undang-undang Kekaisaran Jepang sebelumnya, tak ada aturan secara jelas mengenai pengunduran diri oleh kaisar yang berkuasa. Hanya disebut secara luas, bahwa suksesi diperbolehkan jika kaisar tutup usia. Tetapi, pemerintah negara itu kemudian memberlakukan hukum yang berlaku untuk satu waktu, yang mengizinkan pengunduran diri Akihito. 

Dengan pengunduran diri resminya, maka Naruhito sang putra tertua akan mulai meneruskan jabatan kaisar. Selama ini, ia dikenal dengan bakatnya sebagai musisi yang pernah menempuh pendidikan di Oxford selama dua tahun. Sebelumnya, ia juga pernah menulis sebuah makalah mengenai sistem transportasi Sungai Thames abad ke-18, setelah mempelajari ilmu sejarah di Universitas Gakushuin, sebuah sekolah yang dulunya adalah aristokrat.

Ia menikah dengan Putri Masako dan dikaruniai seorang putri yang diberi nama Aiko. Dalam hukum kekasairan Jepang, garis keturunan suksesi tahta hanya jatuh kepada laki-laki. Karena itu, setelah Naruhito, maka jabatan kaisar akan jatuh ke adik laki-lakinya, Fumihito atau yang lebih dikenal dengan gelar masa kecilnya, Akishino. Setelah itu, garis suksesi akan datang kepada sang putra bernama Hisahito yang saat ini masih berusia 12 tahun.

Sebelumnya, ada sebuah pembicaraan mengenai kemungkinan mengubah hukum tentang garis suksesi, agar perempuan dapat meneruskan takhta. Namun, diskusi berakhir dengan kelahiran Hisahito.

Setelah resmi turun takhta, Akihito akan memiliki gelar baru yaitu Kaisar Emeritus. Meski masih memiliki gelar ‘kaisar’ namun ia akan sepenuhnya pensiun dari tugas-tugas resmi sebagai Kaisar Jepang. Ia tak akan lagi menandatangani dokumen-dokumen pemerintahan, serta menyambut pejabat asing, termasuk acara-acara pemerintahan. 

Akihito bahkan tak akan menghadiri prosesi suksesi sang putra Naruhito. Terdapat kemungkinan bahwa apa yang ia lakukan nantinya tidak dapat tersorot oleh publik. 

Dalam sebuah keterangan, Akihito dikatakan akan lebih memiliki privasi dalam menjalani kegiatannya. Salah satu tujuan dari hal itu adalah untuk tidak menganggu Kaisar Jepang yang baru. 

Akihito bersama dengan sang istri, Permaisuri Michiko nantinya pindah dari kediaman kekaisaran dan bertukar tempat dengan Naruhito. Istana Kekaisaran dikatakan akan direnovasi sebagian untuk sementara waktu, sebelum Naruhito resmi menempatinya.

Let's block ads! (Why?)


http://bit.ly/2IRYsa6
April 30, 2019 at 06:08PM from Republika Online RSS Feed http://bit.ly/2IRYsa6
via IFTTT